Foto : Ilustrasi siswa SPN. (net)
TJI,Bangka Belitung – Seorang siswa Sekolah Polisi Negara (SPN) Lubuk Bunter sebelumnya sempat dikabarkan diduga terindikasi mengidap HIV (Human Immunodeficiency Virus), bahkan siswa berinisial MH ini pun dikabarkan sempat menjalani perawatan medis di salah satu rumah sakit di wilayah Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kabar ini pun sempat membuat geger masyarakat atau publik termasuk sejumlah siswa SPN lainnya turut dihebohkan soal kabar tak sedap, lantaran baru kali ini para siswa dikagetkan kabar ada seorang siswa di lingkungan SPN setempat diduga terindikasi HIV.
Awalnya, Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) Lubuk Bunter, Kombes Pol Norul Hidayat saat dikonfirmasi oleh tim The Journal Indonesia terkait kabar miring itu ia justru mengaku dirinya waktu itu belum mendapatkan informasi itu.
.
Kali ini Hidayat akhirnya mengklarifikasi perihal kabar miring tersebut hingga tak disangkanya berita ini pun jadi ramai atau viral dalam pemberitaan di sejumlah media online dan menyita perhatian publik.
Disinggung kembali oleh tim The Journal Indonesia soal kabar seorang siswanya (MH) diduga terindikasi HIV ia akhirnya malah tak menyangkal soal kabar miring yang menerpa lembaga SPN yang dipimpinnya saat ini, hanya saja ia sendiri enggan menyebutkan detil siapa sosok siswa yang dimaksudnya itu dengan alasan pertimbangan sisi humanity.
“Jadi memang ada siswa kita tapi saya gak akan menyebutkan namanya, bahwa ada fakta kesehatan yang menyebutkan ciri-ciri seperti itu (ciri-ciri terindikasi HIV – red)
Diakuinya, siswa tersebut memang sempat menjalani perawatan di rumah sakit, namun dari pihak rumah sakit yang merawatnya justru menurutnya telah menyatakan jika siswa tersebut saat ini sudah diperbolehkan untuk kembali menjalani aktivitas seperti biasa.
Bahkan Hidayat malah meyakini jika
siswanya (MH) itu meski awalnya dikabarkan terindikasi HIV hingga sempat dirawat di RSUD Soekaeno, namun siswa itu ditegaskanya kini telah kembali ke asrama SPN Lubuk Bunter guna menjalani pendidikan seperti biasa.
“Siswa itu (MH – red) sekarang sudah kembali ke asrama. Bahkan malam ini beliau (MH – red) sedang berada di rumah saya (rumah dinas Kepala SPN – red), dan kebetulan sedang belajar mengaji di sini,” kata Hidayat kepada tim The Journal Indonesia dalam sambungan telepon seluler, Selasa (14/5/2024) malam.
Meski begitu pihaknya tetap menerapkan sikap antisipasi terkait informasi fakta kesehatan yang telah diketahui sebelumnya atas kepulangan siswanya ke asrama namun dikabarkan sempat memiliki ciri-ciri terindikasi HIV.
Hidayat pun lkenbali menegaskan terkait kabar seorang siswanya diduga terindikasi mengidap HIV, namun hal itu sesungguhnya menurutnya bukan kewenangan pihaknya untuk memberikan pernyataan ‘iya atau tidak’ kebenaran informasi yang beredar jika siswanya itu memang terindikasi terindikasi terserang HIV.
Melainkan menurutnya, ada pihak-pihak lain dianggapnya lebih berwenang dalam menyampaikan pernyataan dimaksudnya itu dan bukan sebaliknya dinilai publik ia terkesan ‘menutupi’ fakta atau kejadian seputar informasi miring terjadi di lingkungan SPN Lubuk Bunter tersebut.
“Ada pihak-pihak lain yang lebih berwenang dalam memberikan penjelasan terkait informasi itu apakah siswa itu terindikasi HIV atau tidak,” terangnya.
Sepengetahuanya, dalam hal penyampaian informasi seputar dunia kesehatan menurutnya ada dua hal yang patut difahami oleh masyarakat yakni fakta medis dan fakta kesehatan.
“Istilahnya untuk fakta medis sesungguhnya kita tidak punya kewenangan untuk menjawab, nah itu yang pertama. Terkait fakta kesehatan kan beda dengan fakta medis. Maksudnya fakta kesehatan itu misalnya saya sakit nyeri lutut mungkin orang mengiranya sakit asam urat kan?. Tapi kan kita harus ke medis biar tahu apakah sakit asam urat?,” sebut Hidayat.
*Ketahui Ciri-Ciri HIV ketika Pertama Kali Terinfeksi
Perlu diketahui, mengutip dari rubrik kesehatan bersumber dari laman link website Helodoc.com diterangkan jika Human Immunodeficiency Virus atau HIV adalah virus yang bisa merusak sistem imunitas tubuh. Kenali apa saja yang menjadi ciri-ciri HIV, mulai dari tubuh demam, pembengkakan kelenjar getah bening, hingga kelelahan berlebihan.
Ketika menginfeksi tubuh, virus HIV yang menjadi penyebab AIDS akan merusak sistem kekebalan tubuh. Virus ini akan masuk, menginfeksi, dan merusak sel CD4 yang merupakan jenis sel darah putih. Inilah sebabnya, kamu perlu tahu apa saja ciri-ciri HIV sehingga bisa segera mendapat penanganan.
Sel CD4 atau nama lainnya adalah sel-T merupakan salah satu bagian penting dari kekebalan tubuh.
Ketika virus HIV menginfeksi dan menghancurkan sel tersebut, maka dampaknya adalah daya tahan tubuh menjadi semakin melemah.
Oleh karena itu, pengidap akan mengalami gejala awal yang muncul dalam rentang waktu 2 hingga 6 minggu setelah terpapar virus.
Apa Gejala Awal Virus HIV?
Sangat penting untuk mengetahui apa saja yang menjadi ciri-ciri HIV/AIDS pada fase awal, sehingga kamu bisa segera melakukan penanganan.
Apa saja ciri-ciri HIV pada tahap awal? Berikut beberapa di antaranya:
- Demam
Pada fase awal, penyakit ini memiliki sebutan acute retroviral syndrome (ARS) atau sindrom HIV akut.
Gejalanya dapat berupa demam tinggi dengan suhu mencapai lebih dari 38 derajat Celsius.
Ketika berada pada fase ini, munculnya gejala juga bersama dengan sakit tenggorokan dan rasa lelah berlebihan.
- Kelelahan juga menjadi salah satu ciri-ciri HIV
Kelelahan kronis terjadi karena respons tubuh terhadap peradangan yang muncul akibat infeksi virus HIV.
Gejala ini rasanya sama seperti tidak enak badan atau radang tenggorokan yang terjadi karena penyakit influenza.
Namun, jika radang tenggorokan terjadi bukan karena infeksi virus, berikut Cara Menangani Radang Tenggorokan yang bisa kamu lakukan.
- Pembengkakan kelenjar getah bening
Ciri-ciri HIV selanjutnya adalah pembengkakan pada kelenjar getah bening. Sebab, kelenjar tersebut merupakan bagian dari sistem kekebalan yang membantu tubuh dalam meredakan peradangan akibat virus.
Pembengkakan kelenjar yang terjadi bisa muncul pada lebih dari dua tempat dengan ukuran lebih dari satu sentimeter.
Pembengkakan ini umumnya terjadi pada leher atau ketiak dalam waktu lebih dari tiga bulan.
HIV bisa menular dan menyebar dengan mudah setelah masuk ke dalam tubuh.
Ketika berada pada fase ini, aliran darah pengidap mengandung virus HIV dalam tingkat tinggi, sehingga meningkatkan peluang penularan penyakit.
Karena tidak semua pengidap mengalami gejala awal HIV, pemeriksaan menjadi satu-satunya cara mengetahui adanya virus dalam tubuh.
Diagnosis juga meningkatkan peluang kesembuhan dan mencegah risiko penularan penyakit ke pasangan seksual mereka.
Gejala Awal HIV Muncul Kapan?
Sayangnya, tidak banyak yang menyadari bahwa dirinya telah tertular virus HIV sampai infeksi berkembang menjadi sangat serius dan gejala telah bertambah buruk.
Perlu kamu ketahui bahwa ciri-ciri HIV pada tahap awal dapat muncul antara dua hingga empat minggu setelah seseorang tertular.
Penyakit ini juga bisa berkembang dalam waktu yang lama dalam tiga tahapan utama, yaitu tahap awal, lalu tahap kedua, dan tahap terakhir atau tahapan paling parah dari infeksi HIV, yaitu penyakit AIDS
Human immunodeficiency virus atau HIV adalah jenis virus yang menyebabkan melemahnya sistem imun tubuh. Virus ini dapat menyebar dengan mudah, terutama melalui darah, sperma, cairan vagina, atau ASI. Karena itu, sangat penting untuk mengenal berbagai cara penularan HIV guna mengantisipasi terjadinya penularan infeksi virus ini.
Lantas, bagaimana cara penularan HIV tersebut? Mari temukan jawaban selengkapnya melalui artikel berikut ini mengutip dari laman website ; siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/cara-penularan-hiv
Cara Penularan HIV
Seperti yang telah dijelaskan bahwa HIV (human immunodeficiency virus) adalah jenis virus menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Virus ini dapat menyebar melalui hubungan seksual, sehingga digolongkan sebagai infeksi menular seksual (sexually transmitted infections).
Jika tidak segera ditangani dengan tepat, infeksi HIV bisa berkembang hingga mencapai stadium akhir, yaitu acquired immune deficiency syndrome (AIDS). AIDS adalah kondisi ketika sistem imun tubuh sudah tidak mampu melawan infeksi patogen yang masuk ke dalam tubuh.
Karena infeksi HIV dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, penting bagi setiap individu untuk mengenali cara penularan HIV. Secara umum, HIV dapat menular melalui aktivitas tertentu, di antaranya sebagai berikut.
- Berhubungan Intim Tanpa Menggunakan Pengaman
Cara penularan HIV yang paling sering terjadi adalah melalui hubungan seksual, baik secara vaginal maupun anal tanpa menggunakan pengaman, seperti kondom. Selain itu, penularan HIV/AIDS juga rentan dialami oleh seseorang yang sering bergonta-ganti pasangan seksual. - Penggunaan Jarum Suntik Bersama
Cara penularan HIV berikutnya adalah melalui penggunaan jarum suntik yang sudah terkontaminasi oleh darah penderita HIV. Bahkan, penggunaan jarum suntik bersama ini juga bisa meningkatkan risiko penularan masalah kesehatan lainnya, seperti hepatitis B dan C.
Selain penggunaan jarum suntik bersama, HIV dapat ditularkan melalui transfusi darah. Pada dasarnya, cara penularan HIV ini jarang terjadi, mengingat akan ada pengujian dan seleksi ketat dari petugas kesehatan sebelum calon pendonor melakukan transfusi darah.
HIV juga dapat ditularkan melalui prosedur medis lainnya yang menggunakan alat tidak steril atau tidak dilakukan dengan profesional, seperti alat tato atau tindik (piercing) yang terkontaminasi HIV.
- Penggunaan Alat Bantu Seks (Sex Toys) Bersama
Penggunaan alat bantu seks (sex toys) bersama juga menjadi salah satu cara penularan HIV yang perlu diwaspadai. Sebetulnya, HIV memang tidak bisa bertahan dalam waktu yang lama pada permukaan benda mati. Namun, jika seseorang menggunakan sex toys yang masih dalam kondisi basah karena terkena cairan vagina, sperma, atau darah penderita, penularan HIV mungkin saja terjadi melalui penggunaan sex toys bersama. - Melalui Kehamilan, Persalinan, atau Menyusui
Seorang ibu hamil yang terinfeksi HIV juga berisiko menularkan infeksi virus tersebut kepada bayinya, hal ini disebut sebagai mother-to-child transmission atau pencegahan penularan infeksi HIV dari ibu ke anak (PPIA). Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui plasenta di dalam kandungan atau selama proses persalinan.
Selain itu, ibu menyusui yang terinfeksi HIV juga bisa menularkan virus tersebut kepada bayinya melalui ASI.
*Aktivitas yang Berisiko Kecil Menyebabkan Penularan HIV
Selain yang disebutkan di atas, terdapat beberapa aktivitas lain yang bisa menyebabkan terjadinya penularan HIV, namun risikonya cenderung kecil atau bahkan bisa tidak ada sama sekali. Beberapa aktivitas tersebut di antaranya sebagai berikut.
A. Seks oral
HIV dapat menular melalui seks oral jika terjadi ejakulasi pada mulut yang terdapat sariawan dan luka, atau terdapat luka pada alat kelamin penderitanya. Selain itu, seks oral juga dapat meningkatkan risiko seseorang tertular infeksi menular seksual lainnya.
B. Paparan dari Lingkungan Pekerjaan
Seseorang yang bekerja dengan melibatkan benda-benda tajam, seperti jarum suntik atau pisau juga memiliki kemungkinan untuk tertular HIV, terutama jika mengalami cedera atau luka akibat terkena benda tajam yang sudah terkontaminasi darah penderita HIV.
Pastikan untuk mengikuti kewaspadaan standar di tempat kerja, seperti:
Menggunakan sarung tangan, kaca mata pelindung, dan pelindung lainnya untuk mengantisipasi kontak dengan darah atau cairan tubuh.
Mencuci tangan dan permukaan kulit lainnya setelah kontak dengan darah atau cairan tubuh.
Berhati-hatilah saat memegang atau membuang instrumen tajam selama dan setelah digunakan.
Menggunakan alat pengaman untuk mencegah cedera tertusuk jarum.
Membuang jarum suntik bekas atau alat tajam lainnya ke dalam wadah khusus untuk benda tajam.
C. Kontaminasi Makanan
Mengonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi dengan darah penderita HIV juga bisa menjadi perantara penularan HIV, meskipun risikonya cenderung kecil. Hal ini biasanya terjadi pada bayi yang mengonsumsi makanan yang sudah dikunyah terlebih dahulu oleh pengasuh atau orang tua yang menderita HIV.
D. Berciuman
Perlu diketahui, penularan HIV melalui ciuman bukan terjadi akibat kontak langsung dengan air liur. Namun, hal ini bisa terjadi ketika seseorang berciuman dengan penderita HIV yang mengalami gusi berdarah atau terdapat sariawan pada mulutnya. (RMN/TJI team)
“
“