Foto: Komandan Kompi Senapan (Dankipan) B 147/KGJ, Lettu Inf Sandra Kirana (pojok kanan) turut hadir ke kediaman Rohit alias Jodi dalam upaya penyelesaian perselisihan. (ist)
TJI,BANGKABELITUNG – Kejadian keributan antara seorang pelimbang timah, Rohit alias Jodi (20) dengan oknum anggota TNI yang bertugas di lokasi tambangtimah atau dikenal kawasan ‘Kepala Burung’, Jumat (28/11/2025) bukanlah peristiwa pengeroyokan.
Sebaliknya, kejadian itu murni lantaran kesalahpahaman atau miskomunikasi terkait pengamanan aktivitas penambangan mitra PT Timah Tbk di blok kerja 54 milik CV Tri Mitra Resource (TMR), area HGU perkebunan PT Gunung Maras Lestari (GML), Desa Bukit Layang, Kecamatan Bakal, Kabupaten Bangka, Provinsi Kep Bangka Belitung.
Menurut keterangan seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, para oknum anggota TNI yang bertugas saat itu memang sedang melakukan standae prosedur pengamanan untuk memastikan keselamatan para pelimbang timah di sekitar aktivitas alat berat (eksavator).
“Anggota kami hanya memberi teguran agar para pelimbang tidak terlalu dekat saat mitra beraktivitas. Tujuannya semata-mata untuk mencegah laka tambang,” ujar sumber ini, Sabtu (29/11/2025).

Foto: Seorang oknum anggota TNI terlihat mengalami orang tua Jodi di sela-sela penyelesaian secara kekeluargaan. (ist)
Namun, teguran tersebut diduga menimbulkan rasa keberatan dari salah satu pelimbang sehingga saat itu terjadi adu mulut. “Barangkali karena ditegur, yang bersangkutan merasa tidak nyaman sehingga terjadi perkelahian spontan,” terangnya.
Meski sempat terjadi benturan fisik, situasi berhasil diredam. Pihak TNI bersama perangkat desa langsung membawa Rohit ke RSUD Depati Bahrin, Sungailiat, untuk pemeriksaan medis dan pengobatan guna memastikan kondisi korban.

Foto: Camat Bakam, Ridwan, S.PKP sempat menyaksikan penyelesaian insiden anggota TNI dengan warga. (ist)
“Alhamdulillah, kami mendapat kabar bahwa kedua pihak sudah berdamai. Seluruh biaya pengobatan ditanggung langsung oleh komandan, bahkan beliau ikut mendampingi korban ke rumah sakit,” tambah sumber ini.
Komandan Kompi Senapan (Dankipan) B 147/KGJ, Kapten Inf Sandra Kirana, juga menegaskan bahwa insiden tersebut merupakan miskomunikasi di lapangan.
Ia menegaskan bahwa satuannya tidak mentoleransi tindakan kekerasan dan langsung mengambil langkah penyelesaian secara kekeluargaan.
“Meskipun demikian, saya menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga dan masyarakat atas kejadian ini. Kami telah menyelesaikan semuanya secara kekeluargaan. Rohit dan orang tuanya kami ajak ke rumah sakit untuk memastikan kondisinya aman. Jika ada perawatan lanjutan, kami siap bertanggung jawab,” tegas Sandra.
Ia juga meminta media menjaga suasana tetap kondusif. “Kami berharap tidak ada narasi liar atau provokatif. Mari sama-sama menjaga ketenangan di masyarakat,” ujarnya.
Dalam proses perdamaian tersebut tampak hadir pihak keluarga Rohit, anggota TNI yang terlibat, Dankipan B 147/KGJ, Camat Bakam, dan perangkat desa setempat yang menjadi saksi penyelesaian masalah.
Dengan rampungnya persoalan ini secara damai, masyarakat diimbau kembali fokus pada aktivitas masing-masing, sementara semua pihak diminta menjaga komunikasi yang baik agar kejadian serupa tidak terulang. (*/KBO Babel/Red)


